Istri Kunci Suksesnya

Amsal 31: 10-12, 25-29 (TB) Isteri yang cakap siapakah akan menerima? Ia lebih berharga dari pada permata. 
Berharap mendapat untung, undian tidak akan rugi. 
Ia melakukannya dengan baik untuk membicarakan dan tidak melakukan kejahatan sepanjang berumurnya. 
Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan. 
Ia membuka mulutnya dengan hikmat, melepaskan yang lemah lembut ada di lidahnya. 
Ia menerima semua perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya. 
Anak-Meraih, dan Meraih Berkenan, pula Meraih Penghargaan: 
Banyak wanita telah mencoba dengan baik, tetapi Anda ingin mereka semua. 


Ayat diatas cukup unik. Menggambarkan apa yang kita lihat dan dengar selama ini. Di balik orang sukses, ada istri yang kuat.

Istri yang cantik bukan yang utama yang kami butuhkan, tapi istri yang cakap. Istri yang mendukung tugas dan tanggung jawab suami. 

Saya mengingat awal masa pernikahan yang sederhana, awal kehidupan rumah tangga yang biasa saja, kemudian mulai masuk ke dalam masa depan sulit kompilasi memburuk, tidak ada pemasukan dan anak baru saja dilahirkan serta memerlukan dana. Masa itu juga harus dilayani di gereja karena baru saja diangkat menjadi pelayan gereja. 

Itu masa sulit kami hingga semua harus berkorban. Istrilah yang menguatkan, mendukung semua jalan yang coba dipilih. Keterbukaan terhadap istri Mengenai masalah kita juga sangat penting. Saya juga belajar dari pengalaman kawan yang tidak jujur ​​dengan keuangannya dan bertanya tidak peduli, terus menuntut.

Menghargai istri dimulai dengan kejujuran kita. Istri akan mengerti dan mendukung, dan kita bersama datang memohon kepada Tuhan, memohon jalan keluar yang terbaik. Istri yang baik tidak hanya mengerti tapi juga mendukung. Membantu apa yang bisa dia bantu. 

Mungkin istri kita tidak bisa berjualan seperti kita, bekerja seperti kita. Tapi dia menyiapkan segala sesuatu agar kita bisa bekerja. Tangannya cepat dan cakap, mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus anak kita. Itu juga bukan pekerjaan mudah. Suasana rumah, anak-anak bersahaja, akan membuat perasaan kita leboh baik.

Dulu, hampir 3 bulan lebih banyak bekerja di rumah, membuat dokumen dan proposal. Dan keluar hanya untuk bertemu klien. Tiap langkah kami berdoa bersama. Doanya kadang membuat kita tersekat nafasnya, memegang haru. Tapi yang menguatkan kita.

Hargailah istri Anda, karena mereka juga salah satu sumber kekuatan kita sebagian besar di kala krisis seperti saat ini.

Comments

Popular posts from this blog

Kerja adalah bakti

Hitunglah BerkatNya Pasti Kau Heran

Berpusat kepada Tuhan, Jurus Atasi PPKM Level 4