Gereja Membutuhkan Seorang Pemimpin yang Melayani


Gereja Membutuhkan Seorang Pemimpin yang Melayani

Pendahuluan
Kepemimpinan atau leadership merupakan hal yang terpenting dalam suatu lembaga atau persekutuan. Kepemimpinan dianggap sebagai faktor penentu dalam kesuksesan kerja. Maju mundurnya suatu organisasi banyak dipengaruhi oleh kepemimpinan. Ada beberapa alasan mendasar mengapa kepemimpinan itu sangat penting.
  1. Di mana ada kehidupan berkelompok, di situ kepemimpinan dibutuhkan untuk menata mekanisme kehidupan bersama di dalam kelompok tersebut.
  2. Adanya pekerjaan bersama dalam kehidupan kelompok menuntut perlunya kepemimpinan.
  3. Pembentukan organisasi dan hakekat organisasi formil di dalam masyarakat membutuhkan kepemimpinan.
  4. Adanya penugasan khusus untuk dilaksanakan sebagai suatu kelompok kerja (task force/team work) membutuhkan adanya kepemimpinan.
Arti Kepemimpinan
Arti kepemimpinan sangat bervariasi dan bergantung dari sudut pandang orang melihatnya.
  1. Kepemimpinan adalah sebagai fokus dari proses kehidupan kelompok. Pemimpin cenderung dilihat sebagai fokus suatu perubahan, aktivitas dan proses dari kehidupan suatu kelompok. Dengan definisi ini, pemimpin ditempatkan di atas atau di depan kelompoknya.
  2. Kepemimpinan adalah sebagai personalitas dan efek-efeknya. Terlihat, bahwa orang ternyata lebih baik dan lebih mampu daripada yang lain dalam peranan kepemimpinan. Pemimpin adalah seseorang yang mempunyai beberapa sifat bawaan sangat baik yang diperlukan untuk personalitas dan karakter. Jadi seorang pemimpin itu dilahirkan sebagai pemimpin.
  3. Kepemimpinan adalah sebagai seni penyebab terwujudnya pemenuhan pencapaian . Penekanan di sini adalah kesanggupan si pemimpin untuk menangani kelompok dalam mencapai tujuan tanpa adanya pergesekan serta kerjasama. Bahaya kepemimpinan seperti ini ialah adanya kecenderungan ke arah kepemimpinan otoriter yang tidak menghargai hak, keinginan dan kebutuhan anggota kelompok.
  4. Kepemimpinan adalah sebagai pelaksanaan pengaruh. Kepemimpinan disini dilihat sebagai "proses pengaruh" yang secara khusus menekankan tentang kepemimpinan yang melaksanakan "efek yang telah ditetapkan sebelumnya yang diarahkan dalam menggerakkan sikap dan kegiatan anggota-anggota kelompok." Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mengubah perilaku anggota. Peranan dan tanggung-jawab bawahan disepelekan.
  5. Kepemimpinan adalah sebagai suatu kegiatan atau perilaku terarah. Tindakan kepemimpinan menyebabkan adanya kegiatan atau respon ke arah yang sudah dijabarkan bersama.
  6. Kepemimpinan adalah sebagai suatu bentuk persuasi.
Kepemimpinan Kristen
Kepemimpinan Kristen adalah "Suatu proses terencana yang dinamis dalam konteks pelayanan kristen (yang menyangkut faktor waktu, tempat dan situasi khusus) yang didalamnya oleh campur tangan Allah, Ia memanggil bagi diri-Nya seorang pemimpin (dengan kapasitas penuh) untuk memimpin umat-Nya (dalam pengelompokan diri sebagai suatu institusi/organisasi) guna mencapai tujuan Allah (yang membawa keuntungan bagi pemimpin, bawahan dan lingkungan hidup) bagi dan melalui umat-Nya, untuk Kerajaan-Nya".
Bukan rahasia lagi, bila kepemimpinan di gereja, dalam pelaksanaannya sering disamakan dengan kepemimpinan pemerintahan. Pimpinan dianggap sebagai penguasa, pelayanan diartikan sebagai kuasa. Jabatan gerejawi disamakan dengan posisi yang memberi banyak kesempatan dalam memperoleh sesuatu. Tentu saja akibatnya sama saja dengan yang ada dalam negara kita. Praktek kolusi, korupsi dan nepotisme berlangsung dengan selubung rohaniah. Kemudian kita biarkan itu berlangsung tanpa ada usaha memperbaikinya dengan dasar "kasih".
Memimpin dapat berarti memerintah, tetapi memimpin tidak identik dengan memerintah. Memimpin lebih luas daripada memerintah. Memerintah hanya mempunyai satu garis tegas, garis komando: harus dilaksanakan! Ada unsur pemaksaan. Sedangkan memimpin ada unsur kebersamaan. Memimpin tidak bersifat tunggal, melainkan tim kerja, ada kawan sekerja yang mendampingi.
Yesus memberi dasar yang jelas tentang kepemimpinan Kristen. (Markus 10:42-44 dan Lukas 22:25-26) Kepemimpinan adalah pelayanan. Pelayan adalah hamba, budak. Konotasinya rendah, tetapi kata itulah yang digunakan Yesus untuk menggambarkan tugasnya. Menjadi pemimpin di gereja (Bishop, Distrik Superintenden, Pendeta, Guru Injil, Majelis, anggota Komisi atau Panitia) sebenarnya merupakan suatu kehormatan, sebab Allah berkenan menjadikan kita sebagai "kawan sekerja Allah" (1 Korintus 3:9) Tetapi serentak dengan kesadaran akan istimewanya itu, harus juga disadari akan ucapan Yesus, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Matius 16:24).
Pola pelayanan seperti inilah yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. "Ia (Yesus) harus semakin besar, tetapi aku harus semakin kecil." (Yohanes 3:30) Padahal menurut Yesus, "Di antara mereka yang dilahirkan perempuan tidak ada seorangpun yang lebih besar daripada Yohanes, .... ( Lukas 7:28) Karena itu dalam Alkitab, pertumbuhan dan perkembangan seorang pemimpin gereja tidak ditandai oleh bagaimana pemimpin itu makin "hebat" dan semakin "penting", melainkan ditandai oleh bagaimana pemimpin itu semakin menyangkal dirinya sendiri dan membiarkan dirinya dipimpin oleh Tuhan.
Menyangkal diri berarti menyatakan TIDAK terhadap selera dan ambisi pribadi, melainkan YA terhadap selera dan kehendak Yesus (bdk. Galatia 2:20) Memikul salib berarti harus siap menghadapi segala konsekwensi dari pelayanan karena Nama Yesus, yaitu menderita. Sekali lagi: menderita karena Yesus, bukan karena kesalahan atau kebodohan diri sendiri. Mengikut Yesus, berarti hanya memandang kepada Yesus sebagai satu-satunya tokoh yang harus diikuti, ditaati dan dicontoh. Menjadi pengikut Yesus berarti bukan menjadi pengikut manusia. Tugas Pendeta/Guru Injil/Majelis sebagai pemimpin bukanlah menjadikan orang lain sebagai pengikutnya, melainkan pengikut Kristus! (Baca Yohanes 21:18)
Banyak gereja di Indonesia dilanda kemelut oleh karena para pelayannya menjadi pengikut manusia. Kemelut yang terjadi di jemaat Korintus (1 Korintus 1:10 -17) terulang kembali di banyak jemaat di Indonesia . Hal ini harus benar-benar kita waspadai agar tidak terjadi pada jemaat dan diri kita.
Rasul Paulus tidak pernah meminta agar orang menjadi pengikutnya. Juga tidak kepada Timotius, anak angkatnya. 2 Timotius 3:10 haruslah dimengerti bukan sebagai permintaan Paulus, melainkan merupakan ucapan syukur, sebab Timotius sudah mengikuti keteladanan cara hidup dan pelayanan Paulus. 2 Timotius 4:3-4 memberi penjelasan kepada kita tentang sikapnya. Manusia senang mendengar hal-hal yang menyenangkan dirinya saja, yang cocok, yang seide, segolongan dengan dirinya saja. Hal itu hanya menyenangkan telinga dan hati. Paulus datang ke Korintus bukan untuk memuaskan keinginan jemaat yang suka akan hikmat duniawi, melainkan hanya bersandar pada kekuatan Roh (1 Korintus 2:1-5)
Mengikuti keteladanan tokoh Alkitab, Bapak gereja atau salah satu pemimpin yang kita kagumi itu tidak salah. Akan tetapi janganlah kita menjadikannya sebagai satu-satunya model, yang menjebak kita menjadi fanatik dan meninggalkan pikiran yang sehat. Keteladanan mereka tidak boleh melebihi keteladanan yang Yesus buat bagi kita semua. Yesus sudah memberi teladan bagi kita dalam pelayanan "bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa" (Matius 20:28) "Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Guru-mu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu" (Yohanes 13:14-15) Kita sering melupakan keteladanan ini. Kalaupun ingat, sering hanya terbatas pada pemahaman saja dan tidak sampai pada tindakan.
Kita lebih senang dengan keteladanan Yesus sebagai Raja, sebagai Penguasa; mampu mengadakan mukjizat, menyembuhkan yang sakit, mengajar dan memerintah. Kita senang meniru keteladanan ini, sebab sebagai raja atau anak raja, penguasa, sangat dihormati dan dihargai. Kita senang dihormat. Kita mendambakan penghargaan orang dan rindu untuk mempunyai kuasa seperti Yesus. Keteladanan Yesus sebagai Hamba yang menderita sering kita abaikan. Kita lebih suka mengikuti keteladanan yang hebat, yang spektakuler, yang megah.
Orientasi pelayanan Yesus kepada orang miskin, yang lemah, yang tertindas kita ganti dengan orientasi pelayanan kita kepada yang berkuasa, yang kaya, yang kuat dan yang berkedudukan. Tentu saja tidak berarti yang kaya, yang kuat dan yang berkedudukan tinggi, tidak boleh dilayani. Semua harus dilayani. Hanya yang perlu diperhatikan adalah motivasinya. Berpihak kepada penguasa, pejabat, yang hebat itu lebih aman bagi diri dan posisi. Mengamankan posisi dan diri demi "hidup tidak menderita" bukanlah keteladanan yang Yesus berikan. Bukankah Yesus telah mengosongkan diri-Nya, meninggalkan posisi-Nya, rela menderita, bahkan mati disalib, demi manusia yang berdosa (Filipi 2:5-8).
Inilah keteladanan pelayanan yang harus ada pada diri setiap orang yang mengaku dirinya sebagai pelayan atau hamba Tuhan, atau yang mengaku "sedang melayani Tuhan". Banyak orang yang mau "melayani" tetapi sedikit yang mau menjadi pelayan. Yesus tidak mengajarkan melayani sebagai penguasa, melainkan sebagai hamba. Karena itu benarkah seseorang itu terpanggil untuk melayani atau hanya ingin menyatakan ambisi pribadinya. Pelayanan sebagai pelayan adalah panggilan Allah.
Perhatikan panggilan para Nabi di Perjanjian Lama dan para Rasul di Perjanjian Baru. Mereka semua menjadi pemimpin bukanlah karena mereka berambisi menjadi pemimpin, melainkan karena Allah memanggil mereka untuk memimpin dengan cara melayani, berkorban dan hanya mementingkan kepentingan orang lain!
Pola kepemimpinan ala dunia adalah, kalau dia berhasil, maka dia makin sibuk. Kalau makin sibuk, maka makin sulit dihubungi. Kalau makin sulit dihubungi, maka makin jarang bertemu dengan orang-orang yang dipimpinnya. Ironisnya, ada pemimpin supaya kelihatan "hebat dan sibuk" maka mempersulit orang-orang yang ingin menemuinya.
Alkitab tidak menyodorkan pola yang demikian. Musa, walaupun sangat sibuk, tetap bersama dengan umat Allah yang dipimpinnya. Ekses memang ada. Karena itu Yitro, mertuanya, memberi nasehat agar dia merekrut orang-orang lain yang mampu dan takut akan Allah, dapat dipercaya dan yang benci kepada pengejaran suap, untuk menolongnya. (Keluaran 18) Yesus selalu bergaul dengan rakyat jelata, bahkan orang berdosa, walaupun Dia adalah seorang Rabbi. Dia tidak tinggal diam di kantor di Bait Allah dengan menunggu orang-orang untuk berkonsultasi.
Seorang pemimpin hendaknya mempunyai tim kerja di mana anggotanya mempunyai kemampuan yang sesuai dengan tugas pelayanan. Mereka merupakan suatu tim yang saling menopang dan membantu sehingga tidak ada yang "lebih hebat dan lebih penting". Saling menopang dan membantu dalam melayani bukan dalam hal memperkokoh posisi suatu jabatan!
Diambil dan disunting dari:
Nama situs:GMI Lampung
Alamat URL:http://www.gmi-lampung.org/Gereja_membutuhkan.asp
Penulis:Pdt. Pandu Wiguna Bone, M.Th.
Tanggal akses:24 April 2014

Kategori Bahan Indo Lead: Basic Life Skill

Comments

Popular posts from this blog

Kerja adalah bakti

Hitunglah BerkatNya Pasti Kau Heran

Berpusat kepada Tuhan, Jurus Atasi PPKM Level 4